Minggu, 22 Juni 2014

Mauludan Jawian Desa Padurenan, Gebog, Kudus



Laporan Studi Lapangan Mauludan Jawian Desa Padurenan, Gebog, Kudus 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Sejarah merupakan rangkaian masa lalu yang syarat akan makna bagi kehidupan manusia, baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. Kesadaran akan sejarah perlu ditumbuhkembangkan agar kita bisa mengenali jati diri dan menjadi masyarakat yang tidak mudah tergoyahkan dalam era glbalisasi yang membawa pengaruh demikian kuat sehingga mampu menggeser nilai-nilai kehidupan.
Upaya yang kami lakukan ini adalah melakukan studi lapangan tentang “Mauludan Jawian” yang ada di desa Padurenan. Dengan melakukan hal tersebut merupakan salah satu sumbangsih yang amat berharga dalam menanamkan kesadaran sejarah bagi masyarakat Kudus khususnya. Ini amat penting bagi pembaca pada umumnya, disamping untuk memberikan informasi historis, agar bisa dipetik nilai-nilai keteladanan dari para tokoh yang terlibat didalamnya, sebagai suri tauladan dalam kehidupan, juga bisa mengetahui kapada masyarakat tentang sebuah fakta sejarah.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang diatas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut;
A.    Apa pengertian Mauludan Jawian?
B.     Siapa yang membawa tradisi Mauludan Jawian?
C.     Mengapa ada Mauludan Jawian?
D.    Kapan Mauludan Jawian dilaksanakan?
E.     Dimana Mauludan Jawian dilaksanakan?
F.      Bagaimana proses Mauludan Jawian?
G.    Siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Mauludan Jawian?

C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat disimpulkan tujuan penulisan sebagai berikut:
A.    Untuk mengetahui pengertian Mauludan Jawian
B.     Untuk mengetahui pembawa tradisi Mauludan Jawian
C.     Untuk mengetahui alasan diadakan Mauludan Jawian
D.    Untuk mengetahui waktu pelaksanaan Mauludan Jawian
E.     Untuk mengetahui tempat Mauludan Jawian dilaksanakan
F.      Untuk mengetahui proses Mauludan Jawian
G.    Untuk mengetahui penanggung jawab atas pelaksanaan Mauludan Jawian

D.    Metode Pengumpulan Data
Adapun metode penelitian yang digunakan tim penulis adalah:
1.      Metode Observasi (Pengamatan Secara Langsung)
2.      Metode Dokumentasi (Pengumpulan Data)
3.      Metode Interview (Wawancara)




BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Pengertian Sejarah
Sejarah merupakan salah satu hal yang saat ini berkaitan erat dengan kehidupan kita dan mengandung berbagai makna dan kontroversi mengenai apa sesungguhnya pengertian sejarah seperti yang dipahami selama ini.
Berikut ini adalah beberapa pengertian dan definisi sejarah menurut beberap ahli:
1.      Pengertian Sejarah Menurut "Bapak Sejarah" Herodotus
Sejarah ialah satu kajian untuk menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat dan peradaban.
2.      Pengertian Sejarah Menurut Aristotle
Sejarah merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi. Pada masa yang sama, menurut beliau juga Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit.
3.      Pengertian Sejarah Menurut Muthahhari, 
Ada tiga cara mendefinisikan sejarah dan ada tiga disiplin kesejarahan yang saling berkaitan, yaitu:
a.       sejarah tradisional (tarikh naqli) adalah pengetahuan tentang
kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan kemanusiaan di masa lampau dalam kaitannya dengan keadaan-keadaan masa kini.
b.      sejarah ilmiah (tarikh ilmy), yaitu pengetahuan tentang hukum-hukum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau yang diperoleh melaluipendekatan dan analisis atas peristiwa-peristiwa masa lampau.
c.       filsafat sejarah (tarikh falsafi), yaitu pengetahuan tentang perubahan-perubahan bertahap yang membawa masyarakat dari satu tahap ke tahap lain, ia membahas hukum-hukum yang menguasai perubahan-perubahan ini. Dengan kata lain, ia adalah ilmu tentang menjadi masyarakat, bukan tentang mewujudnya saja.

B.     Pengertian Kebudayaan
Berikut ini definisi-definisi kebudayaan yang dikemukakan beberapa ahli:
1.      Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
2.      Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

3.      Arkeolog R. Seokmono
Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.

Ø  Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi
tiga,yaitu:
1.      Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2.      Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3.      Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Ø  Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan
atas dua komponen utama:
a.       Kebudayaan material
Kebudayaan material adalah kebudayaan yang mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Contoh kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
b.      Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Ø  Kebudayaan secara umum dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
a.       Kebudayaan Daerah
adalah kebudayaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk – penduduk yang lain. Budaya daerah mulai terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan – kerajaan terdahulu. Hal itu dapat dilihat dari cara hidup dan interaksi sosial yang dilakukan masing-masing masyarakat kerajaan di Indonesia yang berbeda satu sama lain.
b.      Kebudayaan Nasional
adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut. Misalkan daerah satu dengan yang lain memang berbeda, tetapi jika dapat menyatukan perbedaan tersebut maka akan terjadi budaya nasional yang kuat yang bisa berlaku di semua daerah di Negara tersebut walaupun tidak semuanya dan juga tidak mengesampingkan budaya daerah tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.

C.    Pengertian Tradisi
Tradisi adalah suatu pola perilaku atau kepercayaan yang telah menjadi bagian dari suatu budaya yang telah lama dikenal sehingga menjadi adat istiadat dan keparcayaan yang secara turun-temurun (Soekanto, 1993: 520).




BAB III
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Mauludan Jawian
Mauludan Jawian adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan di Padurenan pada tanggal 12 Robiul Awwal yaitu tepatnya pada tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Disebut dengan Mauludan Jawian karena lagu-lagu dalam pelaksanaan Mauludan Jawian tersebut bernuansa Jawa. Lagu-lagu tersebut hampir mirip dengan lagu kinanthi dan lagu-lagu Jawa lainnya. Mauludan Jawian dilaksanakan dengan berzanzi dan syaroful anam.
Mauludan Jawian dilaksanakan murni dengan suara, tanpa menggunakakn alat seperti jidur, rebana, atau alat-alat musik Islam lainnya. Hal tersebut dilaksanakan agar pelaksana Mauludan Jawian khusyu’ dalam berdo’a. Mauludan jawian mempunyai pengaruh terhadap rohani seseorang untuk menentramkan hati dan pikiran karena termasuk penghormatan terhadap Nabi agung kita Muhammad SAW.

B.     Pembawa Tradisi Mauludan Jawian
Pembawa tradisi Mauludan Jawian adalah Raden Muhammad Syarif. Beliau adalah putra bungsu dari Bupati Sumenep (Macan Wulung Yudonegoro). Awal kisah, Bupati Sumenep (Macan Wulung Yudonegoro) memiliki 2 putra. Ketika dikalahkan oleh Cokroningrat IV, putranya yang sulung dikalahkan bersama Belanda. Putra sulung tersebut tidak diketahui namanya secara pasti. Adapun putranya yang bungsu bernama Raden Muhammad Syarif. Setelah Raden Muhammad Syarif mengetahui bahwa kakaknya bersekutu dengan Belanda dan memfitnahnya, maka Raden Muhammad Syarif pergi mengembara dengan meninggalkan istrinya. Ketika itu raden Muhammad syarif belum memiliki keturunan. Pengembaraan Raden Muhammad Syarif tidak melewati jalur darat, melainkan melewati jalur laut (utara Jawa). Muhammad Syarif tidak membawa apa-apa melainkan hanya satu buah gentong, kitab kitab Al-Qur’an, baju pusaka, dan empat buah kelapa untuk membantu pengarungan laut Jawa. Dari Sumenep melewati laut utara terus ke barat sampai ke kabupaten Jepara dengan selamat.  
Raden Muhammad Syarif terus berjalan dan melewati daerah Mantingan, Syiripan, Mayong, Tunggul Syaripan, Gebog, Buloh, Geringging, Jurang, Ngepon, Manisan, Ngaringan, Gerjen, dan akhirnya sampailah Raden Muhammad Syarif di desa Padurenan.
Dikatakan bahwa ketika membuka lahan, Raden Muhammad Syarif menemukan buah yang belum pernah beliau jumpai sebelumnya. Bentuknya seperti beluluk (kelapa yang masih muda dan kecil), bundar dan kulit luarnya berduri yaitu buah Kenongo. Berhubung Raden Muhammad Syarif belum tahu namanya, maka beliau berkata: “buah ini sebangsa duren (durian) atau duren-durenan. Jadi namanya desa Ndorenan”. Inilah nama yang asli.
Perjalanan Raden Muhammad Syarif sampai di Padurenan yaitu sekitar 300 tahun yang lalu, bertepatan dengan turunnya Pangeran Diponegoro. Setelah cukup lama tinggal di Padurenan, beliau tidak berkelana lagi dan sudah merasa nyaman berada di Padurenan. Beliau juga sudah berhasil dalam berdakwah, salah satu diantaranya yaitu tradisi Mauludan Jawian. Beliau membawa tradisi tersebut dari daerah Madura. Oleh karena itu, lagu-lagu Mauludan Jawian yang ada di Padurenan mirip dengan lagu-lagu Mauludan Jawian yang ada di daerah Madura. Itu adalah sejarah adanya mauludan Jawian.
Setelah dirasa nyaman dan tinggal menetap di Padurenan, beliau memiliki keinginan untuk membangun masjid. Raden Muhammad Syarif pun mempersiapkan alat-alat pertukangan dan kayu penyangga (soko). Soko yang ingin digunakan untuk membangun masjid di Gerjen diambil dan didirikan di Padurenan. Masjid bisa berdiri sempurna kira-kira pada tahun 1029 H atau 1789 M. Sampai sekarang masjid tersebut digunakan untuk pelaksanaan Mauludan Jawian. Masjid tersebut diberi nama Masjid As-Syarif. Nama masjid diambil dari nama beliau, karena beliau telah berjasa dalam pembangunan masjid tersebut. Seiring berjalannya waktu, masjid tersebut mengalami rehab yang pertama yaitu pada tahun 1209 H. Jadi, rehab yang pertama dilaksanakan kira-kira sudah 200 tahun yang lalu.
Disisi lain, ketika Raden Muhammad Syarif berangkat mengembara meninggalkan Sumenep, sebenarnya beliau baru saja melakukan pernikahan kira-kira baru tiga bulan. Karena keadaan pada waktu itu tidak aman (pasca perang dengan Sekutu) maka istrinya tidak diajak dan diberi pesan agar menyusulnya di hari dan bulan yang lain. Raden Muhammad Syarif berkata: “kalau keadaan sudah aman kamu boleh menyusul dan jangan lupa Raden Syuhud (sepupu Raden Muhammad Syarif / paman Pangeran Diponegoro) diajak untuk menemani, arah tujuan adalah kebarat ditanah Jawa pesisir utara antara Kudus dan Jepara”.
Setelah benar-benar aman, istri Raden Muhammad Syarif pun menyusul dan apa yang menjadi pesan Raden Muhammad Syarif selalu ditaati (mengajak Raden Syuhud). Dalam perjalanannya, istri Raden Muhammad Syarif selalu mendapatkan banyak rintangan, akan tetapi semuanya dapat diatasi berkat kepintaran Raden Syuhud. Ketika sudah sampai di Kudus, istri Raden Muhammad Syarif pun mulai menanyakan keberadaan suaminya kepada orang yang dilewati. Sampai akhirnya istri Raden Muhammad Syarif berada di desa Gebog dan bertemu dengan seorang ibu janda yang mengetahui keberadaan Raden Muhammad Syarif.
Di desa gebog, istri Raden Muhammad Syarif dan Raden Syuhud menginap di rumah ibu janda. Ibu janda tersebut menceritakan banyak hal tentang Raden Muhammad Syarif. Tetapi tiba-tiba istri Raden Muhammad Syarif tersebut menderita sakit, dan semakin hari sakitnya semakin parah. Karena hal tersebut, istri Raden Muhammad Syarif menitip pesan kepada ibu janda: 
1.      Desa ini nemanya tetap Gebog Syaripan
2.      Pekerjaan menenun ini teruskan karena memang sudah menjadi penghasilan kamu sampai anak cucu.
3.      Seandainya pagi atau sore saya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, saya mohon agar dikubur disini saja.
4.      Keluarga Gebog dan anak cucunya dimana saja, setelah selesai akad nikah supaya mengingat dan berziarah ke makamku. Hal ini supaya kelak kalau berumah tangga bisa tentram dan aman rukun selamanya.
“Saya menjadi semakin sakit dan belum bisa bertemu dengan suamiku. Ini sangat berat rasanya. Namun walaupun saya belum bertemu di dunia, saya berharap bisa bertemu besok di akhirat. Jangan lupa pesan saya bu..” kata istri Raden Muhammad Syarif.
Tidak berselang lama, istri Raden Muhammad Syarif pun di panggil oleh Allah SWT. Dan apa yang menjadi wasiat istri Raden Muhammad Syarif tadi dilaksanakan oleh ibu janda semua. Kejadian ini kira-kira tahun 1752 M.
Setelah wafatnya istri Raden Muhammad Syarif, Raden Syuhud meneruskan perjalanannya. Dan akhirnya beliau bertemu dengan Raden Muhammad Syarif. Raden Syuhud menceritakan semua kejadian kepada Raden Muhammad Syarif, dan beliau juga menceritakan tentang ibu janda dan menunjukkan tempat pemakaman istri Raden Muhammad Syarif.
Semua itu adalah sekilas dari perjalanan dan sejarah Raden Muhammad Syarif. Beliau akhirnya wafat di Padurenan dan di makamkan di Padurenan, tepatnya di belakang Masjid As-Syarif. Sampai sekarang, Raden Muhammad Syarif pasti di khauli, yaitu pada legi akhir pada bulan muharram. Untuk hari dan tanggal bisa berganti, tetapi harus legi akhir bulan muharram.

C.    Alasan diadakannya Mauludan Jawian
Menurut para sesepuh di Padurenan, pada zaman dahulu di desa Padurenan sering ada musibah. Kata para sesepuh, ada sosok jin yang sering mengganggu kehidupan masyarakat Padurenan, sehingga mengganggu ketentraman dan kedamaian masyarakat Padurenan. Seperti contoh ketika ada warga yang akan mengadakan khajatan seperti sunatan, nikahan atau acara syukuran, pasti mengalami musibah. Misalnya saja ketika acara pernikahan, salah satu pengantin ada yang pingsan, atau ketika acara khitan, anak yang akan dikhitan tersebut merasa sakit, dan ketika syukuran, waktu menanak nasi tidak matang. Hal tersebut, menjadikan warga resah dan bingung.
Jadi, untuk mengusir jin tersebut, warga yang akan melakukan khajatan harus membawa satu opor ayam dan candu (candu=ganja). Candu dan opor tersebut dibawa ke belakang masjid, kemudian candu tersebut dibakar sebagai wujud agar jin tersebut tidak mengganggu acara khajatan yang akan dilakukan. Tetapi, seiring berjalannya waktu, tradisi memakai candu tersebut dirombak oleh Mbah Mawardi (sesepuh) karena candu termasuk barang larangan di negara kita.
Dengan demikian, warga Padurenan setiap tanggal 12 Rabiul Awwal mengadakan Mauludan Jawian. Dan dengan diadakannya Mauludan Jawian tersebut,  jin yang dahulu selalu mengganggu kehidupan warga sekarang ini sudah menghilang. Kata para sesepuh, jika Mauludan Jawian tidak diadakan dan tidak dilaksanakan secara terus-menerus sampai besok, maka jin yang dahulu mengganggu akan datang lagi. Dengan begitu, hingga saat ini masyarakat Padurenan selalu melaksanakan Mauludan Jawian.
D.    Waktu Pelaksanaan Mauludan Jawian
Waktu pelaksanaan Mauludan Jawian yaitu tepat pada tanggal 12 Rabiul Awwal, yaitu tepat pada kelahiran Nabi Muhammad SAW. Mauludan Jawian mulai di laksanakan pada jam 8 malam sampai jam setengah 1 malam. Tetapi jika ada istirahatnya, maka sampai jam 1 malam. Mauludan Jawian dilaksanakan di Masjid As-Syarif.

E.     Tempat Pelaksanaan Mauludan Jawian
Mauludan Jawian dilaksanakan di Masjid As-Syarif Padurenan yang paling tua, karena masyarakat Padurenan sangat menghormati masjid yang paling tua sebagai kehormatan dimana masjid tersebut dibangun oleh Raden Muhammad Syarif. Biasanya setelah tanggal 12 Rabiul Awwal juga diadakan Mauludan lagi di mushola-mushola dan masjid-masjid di Padurenan yang lain. Tetapi khusus untuk tanggal 12 Rabiul Awwal itu dilaksanakan di masjid peninggalan Raden Muhammad Syarif.

F.     Proses Pelaksanaan Mauludan Jawian
Proses awal dilaksanakan Mauludan Jawian itu harus pada tanggal 12 Rabiul Awwal, sebagai penghormatan kepada kelahiran Nabi Muhammad SAW. Mauludan Jawian dilaksanankan di masjid As-Syarif (masjid peninggalan Raden Muhammad Syarif) pada jam 8 malam sampai jam 1 malam. Masyarakat yang menghadiri Mauludan Jawian yaitu sekitar 500 sampai 600 orang. Masyarakat tersebut terdiri dari anak-anak kecil, orang dewasa, hingga orang yang sudah tua dan lanjut usia. Jadi, semua lapisan masyarakat mengikutinya. Pelaksanaan Mauludan Jawian tersebut dihadiri masyarakat tanpa menggunakan undangan.
Mauludan Jawian antara lain berzanzi dan syaroful anam. Orang yang membaca berzanjian itu turun-temurun, namun pada generasi sekarang  jarang yang berani memimpin. Al-berzanzinya dibaca mulai dari awal sampai akhir, yang didalamnya ada 18 bagian. Orang yang memimpin Al-berzanzi itu harus mempunyai suara yang keras serta baik. Untuk sholawatannya tidak otodidak, tetapi ada latihannya, yaitu dengan sering mendengarkan maka lama kelamaan akan terbiasa dan bisa. Seseorang yang memimpin sholawatan tersebut harus mempunyai suara yang keras dan napas yang panjang. Dan seseorang yang memimpin itu empat orang. Dengan dua orang di sebelah kiri dan dua orang disebelah kanan. Separuh bait dibacakan dua orang, kemudian separuh baitnya lagi dibaca dua orang yang lainnya.
Proses pelakasanaan Mauludan Jawian diawali dari iftitah, tahlil, kemudian Mauludan Jawian dan tidak ada mauidoh terlebih dahulu. Ditengah acara tersebut ada istirahatnya (makan & minum). Mauludan Jawian itu akan terasa khidmat kalau sudah jam 11 malam dimana suasana sudah hening dan hati terasa tenang dan tentram.
Dalam pelaksanaan Mauludan Jawian tidak ada ritual terlebih dahulu, hanya berzanzi saja. Kebanyakan yang mengikuti Mauludan jawian itu adalah orang-orang yang tenang. Tidak mungkin orang yang jarang sholat dan berperilaku buruk akan mengikuti Mauludan Jawian. Yang membedakan Mauludan jawian dengan Mauludan lainya adalah terletak pada lagunnya.
Sebenarnya Mauludan Jawian dahulu itu tidak didaerah Padurenan saja, yaitu ada juga di daerah Gerjen dan Besito. Tetapi karena tidak ada yang meneruskannya, maka tradisi Mauludan Jawian tersebut hilang. Dan untuk di daerah Padurenan ini merupakan suatu keharusan malakukan Mauludan Jawian, sehingga sampai sekarang Mauludan Jawian tetap ada di Padurenan.


G.    Penanggung Jawab Pelaksanaan Mauludan Jawian
Yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Mauludan Jawian adalah pengurus masjid. Dan yang menjalankan atau mengawasi jalannya Mauludan Jawian yaitu kabid (kepala bidanng) imaroh.






BAB IV
PENUTUP

A.    Simpulan
Mauludan Jawian adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan di Padurenan pada tanggal 12 Robiul Awwal yaitu tepatnya pada tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Disebut dengan Mauludan Jawian karena lagu-lagu dalam pelaksanaan Mauludan Jawian tersebut bernuansa Jawa. Pembawa tradisi Mauludan Jawian adalah Raden Muhammad Syarif dari Sumenep.
Mauludan Jawian dilaksanakan di Masjid As-Syarif Padurenan yang paling tua dimana masjid tersebut dibangun oleh Raden Muhammad Syarif. Proses pelakasanaan Mauludan Jawian diawali dari iftitah, tahlil, kemudian Mauludan Jawian dan tidak ada mauidoh terlebih dahulu. Ditengah acara tersebut ada istirahatnya (makan & minum). Mauludan Jawian mulai di laksanakan pada jam 8 malam sampai jam setengah 1 malam.

B.     Saran
Sebagai masyarakat yang cinta dengan kebudayaan dan tradisi, sudah seharusnya kita melaksanakan tradisi dan kebudayaan tersebut dengan baik.




DAFTAR PUSTAKA

Narasumber : Bapak K.H Ahmad Asnawi
Afandi Kusuma. 2013. Definisi Kebudayaan Menurut Para Ahli. Terdapat pada http://afand.abatasa.com/post/detail/6923/. Diposting pada 11 Oktober 2009
Ifzanul. 2013. Definisi Sejarah Menurut Para Ahli. Terdapat pada http://ifzanul.blogspot.com/2009/12/definisi-sejarah-menurut-para-ahli.html. Diposting pada 08 Desember 2009
Zuba’i, Ahsinillaits. 2012. Sejarah Desa Padurenan. Kudus: Pemerintah Desa Padurenan Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus



Tidak ada komentar:

Posting Komentar